'! A camp for abusing martial arts trainees!' - gay sex story @ Menonthenet.com's Gay Erotic Stories

Menonthenet.com Gay Erotic Stories. Last updated Jul 16, 2019 - Home of 21478 erotic stories

Your Cookies are not enabled. You will not be able to register or login to your profile.

! A camp for abusing martial arts trainees!

By Tommy Rinaldo Vito

submitted May 6, 2004

Categories: In Indonesian

Text Size:

Bogor is a cool and beautiful city located about 60 km from Jakarta. During the Dutch Colonial Administration time - it was called Buitenzorg. It was then the second seat of the colonial government - after Batavia [now Jakarta] since the Governor General of the Dutch Indies lived in Bogor Palace.

The incident told in this story took place in a camp located at the surrounding of Bogor. The camp is a huge complex which acommodates almost a hundred in mates. The choice of the word "in mates" seems quite appropriate since these men are treated just like the in mates of a prison - including forced strippings and floggings.

Setiap kali akan kembali ke Bogor dari tugas mengawal klien aku selalu merasa berdebar-debar. Bagi aku dan sebagian besar teman-temanku yang dibesarkan dan dididik di Bogor Camp atau Kampus Bogor memang telah melalui masa-masa yang berat dan amat sangat kejam.

Kami direkrut pada usia yang sangat muda yaitu setelah tamat SMP. Rekrutmen dilakukan melalui program beasiswa.Tidak heran jika praktis semua yang direkrut adalah anak-anak yang berasal dari keluarga miskin.

Memang benar bahwa kami dibiayai dan diberi makan dan pendidikan yang cukup baik. Tapi kami juga harus merasakan kekejaman yang luar bisa - di luar batas-batas perikemanusiaan. Tapi karena sistem pendidikan yang diterapkan menggunakan metode-metode psikologis tertentu maka tidak seorang pun di antara kami yang pernah mencoba atau bahkan memikirkan untuk lari.

Ada kemungkinan bahwa kemiskinan yang mendera orang - tua kami menyebabkan kami tidak punya pilihan lain selain menetap di Kampus Neraka itu. Kemungkinan lain adalah ancaman-ancaman terselubung bahwa kami akan dihukum berat jika berani lari atau bahkan berpikir untuk lari.

Anehnya lagi, meskipun kami disiksa dengan amat kejam setiap hari [bahkan nyaris setiap waktu] tapi tidak ada rasa dendam sedikit pun di antara kami terhadap para pelatih yang [harus] kami panggil "Abang" itu. Para abang inilah yang jadi pelatih, sekaligus penyiksa dan pemerkosa kami. Tapi, sekali lagi, anehnya kami justru sangat setia dan cinta kepada mereka! Mungkinkah mereka menggunakan kekuatan magis sehingga mereka bisa menguasai jiwa kami?

Kamp bejat dan sialan ini memproduksi Satpam dan Body-guard andalan yang sekarang banyak dicari dan jadi favorit para klien yang ingin "membeli" keamanan bagi dirinya.Tidak jarang sebagian dari para klien juga sekalian membeli kenikmatan sex sejenis dari para body-guard pilihan yang umum-nya berwajah ganteng, berotot ketat, bersikap ramah, berotak cerdas, berkontol besar, dan ber-pejuh banyak dan kental!

Sejak jadi penerima bea siswa kami seakan telah tercabut dari keluarga kami. Pengelola kamp ini mengusung motto "Kesetiaan,kekuatan,keberanian, kelaki-lakian!". Penanaman motto ini dimaksudkan untuk meyakinkan semua rekrut yang berada dalam kamp ini agar bisa melupakan keluarga dan semua yang terjadi di luar kamp.Aku membandingkan kamp ini dengan sekte-sekte gila-gilaan yang pernah muncul di luar negeri maupun di Tanah Air.

Latihan fisik dan latihan otot merupakan bagian yang paling penting bagi kami penghuni kamp ini. Nyaris bagaikan ritus wajib suatu agama. Tidak heran jika semua penghuni kamp ini jadi bertubuh atletis dan ketat seperti tubuh pelatih senam, fitness atau bina-raga.Jogging, berenang, angkat berat dilakukan setiap hari. Latihan bela diri dilakukan malam hari. Siang dan sore hari merupa-kan waktu belajar atau kuliah. Latihan-latihan yang dilakukan sistematis sejak usia dini telah membikin para penghuni kamp ini seakan-akan jadi kebal terhadap rasa lelah.

Di sela-sela kegiatan ini diselipkan "latihan mental" berupa penghajaran dan penyiksaan kejam di luar batas-batas perikemanusiaan dan hak asasi manusia. Berbagai cara menyiksa dicobakan dan diterapkan kepada kami, [katanya] demi untuk melaki-lakikan kami.Siksaan ini selalu dikaitkan dengan nilai kebanggaaan sebagai "laki-laki yang kuat tahan uji tahan nyeri dan tahan siksa".

Siksaan itu juga sekaligus merupakan ancaman jika ada di antara kami yang berani membocorkan tentang apa yang terjadi di dalam kamp. Sebagai contoh, kami sering disundut dengan besi panas, setelah itu kami diancam jika kami membocorkan rahasia maka sudah tersedia besi membara yang siap untuk ditempelkan ke tubuh kami atau bahkan dimasukkan ke lobang pantat kami.

Anehnya, semula "latihan mental" ini dilakukan setiap hari dan kami harus selalu dalam keadaan bertelanjang bulat. Demikian juga para "pelatih" atau "penyiksa". Mereka pun tidak malu-malunya pada ngaceng kontolnya selagi menyiksa kami dan satu dua di antara mereka pergi ke sudut kamar siksa untuk mengocok kontolnya. Tidak heran jika kamar siksa itu jadi semerbak bau pejuh para pelatih maupun para rekrut. Kadang-kadang para rekrut dipaksa ngeloco setelah dihajar atau disiksa dengan kejam - alasannya untuk menghapus atau mengobati rasa sakit setelah disiksa, baik setelah dicambuk badannya, disengat kontolnya dengan listrik, disundut dengan rokok atau besi panas atau ditetesi dengan lilin cair panas.Jika ada rekrut yang tak bisa ngaceng atau mengeluar-kan pejuhnya karena barusan merasakan nyeri yang amat sangat waktu disiksa, maka si rekrut yang malang itu dibentak-bentak dan diancam, bahkan tak jarang disiksa lagi dengan lebih kejam!Kata-nya agar cepat "bisa jadi laki-laki lagi".Ta'i!

Bahkan tidak jarang para "pelatih" yang sudah pada bertelanjang bulat dan sekalian lagi pada ngaceng kontolnya itu lalu rame-rame menyodomi lobang pantat korban atau memaksanya menyedot kontol para "pelatih" dan menelan pejuh mereka. Katanya untuk membantu "memberikan kekuatan" lagi pada si korban yang kontolnya lagi loyo karena barusan dihajar dengan sadis!

Jadi suasananya persis seperti Penjara Al Ghraib di Irak dimana tentara Amerika menyiksa tahanan Irak dengan cara-cara yang mereka "pelajari" dari situs gay yang berlabel s/M atau fetish!

Yang pasti semua tahanan Irak ditelanjangi, lalu ada yang lobang pantatnya disodok gagang sapu, ada yang ditumpuk seperti piramid dalam keadaan telanjang bulat, ada yang diborgol bertiga dalam posisi seperti sedang melakukan three some.Lalu semua perbuatan cabul mereka difoto untuk bahan para tentara Amerika itu ngeloco. Kadang-kadang para tentara itu mempraktekkan sendiri apa yang mereka perintahkan kepada para tahanan Irak itu. Pada dasarnya sebagian besar dari mereka memang cenderung homosex atau bi-sex.Jadi mereka sangat menikmati acara-acara cabul dan bejat itu

Cara-cara bejat,sadis,cabul ini juga dipraktek-kan oleh para Praja Senior bejat di Kampus STPDN Jatinangor, dengan restu dari para pengelola dan pengasuh sekolah sialan itu! Ta'i!

Hasil psiko-tes dari para Praja STPDN tahun 2002 menunjukkan bahwa 80% dari mereka menderita agresifitas, hipersex, sadis dan homosex. Ta'i!

Sekarang, setelah lebih dari sepuluh tahun jadi penghuni yang camp kejam dan cabul itu aku sudah tidak bisa lepas lagi. Semua teman seangkatanku jadi pegawai dari Security Agency ini. Ada yang jadi body-guard, ada yang jadi Satpam dan ada yang jadi debt-collector.Ada pula yang merangkap jadi gigolo kucing yang melayani sex sejenis.

Aku cukup berbahagia tetap berada dalam camp ini. Hanya saja bagaimana nasibku kelak jika kamp ini dibubarkan karena kedapatan melakukan kegiatan yang cenderung kriminil, asusila dan melanggar hak asasi manusia?. Kita lihat saja nanti. Untuk sekarang ini aku mau ngentot,ngeloco atau ngisep kontol saja dulu, sambil sekali-sekali menyiksa murid baru. Dasar ta'i!

[KONTOL PRAJA STPDN DAN KONTOL TARUNA AKMIL]


The site is under heavy traffic at this time. Could not retreive more articles from Tommy Rinaldo Vito at this time Please refresh the page.