'A Black Episode of My Life: Enslaved !' - gay sex story @ Menonthenet.com's Gay Erotic Stories

Menonthenet.com Gay Erotic Stories. Last updated Jul 16, 2019 - Home of 21478 erotic stories

Your Cookies are not enabled. You will not be able to register or login to your profile.

A Black Episode of My Life: Enslaved !

By Tommy Rinaldo Vito

submitted March 8, 2005

Categories: In Indonesian

Text Size:

Slavery is still very much exist in the world. Bounded labour, indenture labour, child labour, you name it! All of them are forms of modern slavery.Even the real slavery- just like being practiced in the eighteen century - is still in existence today. What I had endured is just the worst part of my life i.e. when I was enslaved! I was enslaved mentally,physically,and sexually! I was also stripped naked, sexually abused, and tortured!

Banyak orang yang tidak percaya bahwa perbudakan masih ada di dunia.Tetapi apa yang aku ceritakan akan membuktikan bahwa benar(!) perbudakan masih dipraktekkan di dunia, bahkan di seluruh dunia.

Pelanggaran disiplin adalah hal biasa terjadi di kalangan militer. Pelanggaran seperti ini bisa ringan bisa berat.Hukumannya juga bisa sekedar dijatuhi hubungan disiplin seperti dihajar oleh atasan yang berhak menghukum (Ankum) atau masuk sel untuk beberapa hari dengan pengurangan jatah makanan.Atau bisa juga tidak diberi makanan sama sekali dua tiga hari, sambil tentu saja secara periodik diberi siasaan seperti: dicambuk,diberi sengatan listrik atau disundut dengan besi panas sampai semaput - pingsan.

Pelanggaran disiplin tertentu seperti desersi, pencurian,atau pembunuhan, bisa dikenakan pidana militer. Bagi anggota militer yang sempat jadi tersangka atau tertuduh, maka perkaranya akan diproses melalui Oditurat Militer untuk diadili oleh pengadilan militer.

Tapi proses pengadilan di negara terkebelakang manapun biasanya makan waktu sangat lama dan tak jarang sampai sang tersangka atau tertuduh yang tidak bersalah sudah mati [karena sakit alamiah atau akibat disiksa keterlaluan] pengadilan itu pun belum dimulai. Untuk mencapai proses itu tersangka ditahan di Rumah Tahanan Militer (RTM).

Aku pernah ditahan di RTM di suatu negara yang tak perlu aku sebut namanya. Kesalahanku cukup berat yaitu desersi. Aku ditangkap oleh Polisi Militer (POM) setelah sekitar setahun aku kabur meninggalkan kesatuanku. Waktu itu aku berumur 30 tahun dan berpangkat bintara (Sersan). Ketika aku berdinas militer aku sempat menyelesaikan pendidikan S1. Itu pula yang mendorong aku kabur dari kesatuanku,yaitu banyak pekerjaan lain yang jauh lebih menarik. Usahaku untuk kabur ke luar negeri juga gagal akibat penangkapan diriku oleh POM.

Setelah berhasil ditangkap, aku langsung saja dijebloskan ke suatu RTM. Yang pertama dilakukan para penjaga RTM adalah melucuti seluruh penutup tubuhku (pakaian) sehingga aku telanjang bulat dan merampas barang-barangku seperti dompet dan arloji. Kemudian mereka memasangkan borgol besi berantai di pergalangan tangan dan kakiku. Aku merasa benar-benar seperti budak-budak Afrika yang dibawa ke Amerika pada abad ke 17-18 yaitu telanjang bulat dan dirantai.

Aku digiring kedalam RTM dan dimasukkan ke suatu sel berukuran 3 X 3 meter. Didalamnya sudah ada 3 orang tahanan laki-laki, semuanya bertelanjang bulat dan dalam keadaan tangan dan kaki dirantai seperti aku!

Seperempat dari luas sel yang 3 X 3 m itu sudah terambil oleh kloset jongkok dan tempat mandi yang dilengkapi keran dan ember untuk menampung air.Sungguh sel itu terlalu sempit untuk 4 orang laki-laki dewasa,yaitu aku,Erik,Alex dan Jeffri. Ternyata kami berempat sama-sama berpangkat bintara dan juga melakukan pelanggaran yang sama yaitu : desersi!

Untungnya keadaan di RTM tidak sama dengan di Rumah Tahanan (Rutan) biasa dimana setiap penghuni baru harus dipelonco atau harus melalui suatu masa perkenalan (inisiasi) dalam bentuk pengeroyokan, pemukulan, penghinaan atau juga perkosaan! Mereka baik-baik saja dan juga tidak complain atas kehadiranku. Ternyata sebelumnya memang mereka sudah biasa berempat.Penghuni satu lagi dipindah ke sel lain, ditukar dengan aku.

Hampir tiga tahun aku berada dalam RTM itu dan selama tiga tahun itu pula kami berempat tidak pernah diberi pakaian atau penutup apapun juga. Bahkan borgol dan rantai kami pun tidak pernah dibuka. Borgol itu agak longgar, sehingga tidak melukai kulit kami.

Perkara kami juga tidak pernah diproses.Sekali-sekali kami diinterogasi. Tapi kami tidak pernah melihat interogator menuliskan sesuatu. Bahkan boleh dibilang kami hanya disiksa dengan macam-macam siksaan saja selama 1- 2 jam diinterogasi itu.

Para penyiksa itu paling hobby mencambuki tubuh kami yang telanjang bulat - sampai penuh bilur, lebam, dan lecet.Kemudian memasangakan penyengat listrik ke organ-organ tubuh kami yang sensitif seperti kontol, biji peler,lobang pantat, puting susu dan ketiak. Sampai kami kejet-kejet, mulas-mulas, pingsan-semaput atau bahkan sampai pejuh kami muncrat berceceran! Kalau pejuh kami sampai muncrat kelantai,sudah pasti kami harus menjilat ceceran pejuh kami dengan lidah sampai bersih!

Dari pagi sampai sore, praktis kami tidak pernah istirahat.Ada saja yang harus kami kerjakan atau kami rasakan. Baik dihajar atau disiksa, dipaksa senam, olahraga atau angkat beban, disuruh mengerjakan sesuatu,seperti membersihkan gedung, mencuci mobil, membersihkan halaman RTM.

Semua itu kami lakukan bertelanjang bulat dan dirantai serta dibawah ayunan pecut,sodokan besi panas atau sengatan listrik para petugas RTM! Setiap malam luka-luka kami "diobati" dengan alkohol dan yodium tinctur supaya kami kelojotan karena kepedihan dan kesakitan [Ta'i!]


The site is under heavy traffic at this time. Could not retreive more articles from Tommy Rinaldo Vito at this time Please refresh the page.