'Gelinjang tamtama yang dihajar dalam keadaan telanjang' - gay sex story @ Menonthenet.com's Gay Erotic Stories

Menonthenet.com Gay Erotic Stories. Last updated Jul 16, 2019 - Home of 21478 erotic stories

Your Cookies are not enabled. You will not be able to register or login to your profile.

Gelinjang tamtama yang dihajar dalam keadaan telanjang

By Tommy Rinaldo Vito

submitted March 27, 2005

Categories: In Indonesian

Text Size:

MENGHAJAR PRAJURIT

Rudiyanto [Rudy] adalah anak buahku di batalyon. Umurnya 18 tahun. Dia tamatan SMU dan lazimnya tamatan SMU melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tetapi tekanan ekonomi mengharuskan dia memilih jalan lain.Dia berpangkat Prada[Prajurit Dua].Jadi,ijazah yang dipunyai jauh lebih tinggi dari yang seharusnya menjadi persyaratan seorang tamtama.

Sejak pertama aku jumpa Rudy aku sudah tertarik. Betapa tidak, Rudy tegap dan tampan, kulitnya coklat terang, tubuhnya atletis. Aku sering menyuruh Rudy menemani aku jogging, badminton, latihan renang, latihan karate,latihan beban dan berbagai olah raga kegemaranku.

Kadang-kadang,Rudy juga aku suruh menyupir mobil dinasku, sementra itu Kopral Sukimin, supir yang biasa melayani aku, aku suruh istirahat di rumah mengeloni isterinya atau momong dua orang anak-nya yang masih kecil-kecil. Rudy masih bujangan. Aturan di batalyon kami adalah,mereka yang masih berpangkat Prada belum dizinkan menikah, sampai naik pangkat jadi Pratu [Prajurit Satu].

Karena sering bersama-sama Rudy, aku jadi hafal bagian-bagian tubuhnya. Seperti aku bilang, Rudy bertubuh atletis dan berotot ketat. Biseps dan trisepsnya amat bagus, besar dan ketat.Otot dada-nya juga menonjol kedepan ketat,dengan dua buah puting susu yang tegang ketat melenting seakan menancap di masing-masing belahan dadanya. Otot perutnya rata bertonjolan membentuk six packs! Dengan wajah yang tampan, seharusnya Rudy bukan jadi tamtama, tapi jadi model,presenter, bintang film atau bintang sinetron.

Sayang sekali Rudy jadi tamtama,alangkah baiknya jika dia jadi perwira atau sekurang-kurangnya bintara.Tapi, yach! Peraturan tinggal peraturan dan dasar nasib Rudy memang seperti itu!

Selepas tiap latihan renang aku selalu mengajak Rudy mandi bersama, membilas badan. Tentu saja kami bertelanjang bulat. Bukan hal yang istimewa buat dua orang tentara mandi bersama telanjang bulat. Karena itu aku juga tahu ukuran kontol Rudy yang besarnya kira-kira sama dengan ukuran kontol kuda Arab. Kontol Rudy disunat ketat [high and tight] seperti sunatnya kontol anggota Green Berret US Army [Tentara Amerika Serikat].

Jembutnya hitam tebal tumbuh dan luas melatar belakangi kontolnya yang besar dan disangga oleh dua buah biji peler yang besar dan membulat ber-gantung di bawah kontolnya! Rambut ketiaknya tumbuh sekedarnya bagaikan garis hitam tipis di tengah kedua belah keteknya. Jantan dan kelaki-lakian!

Meskipun aku dekat dengan Rudy,aku tetap menjaga jarak dan batas atasan dan bawahan. Kalau Rudy berbuat kesalahan, sekali-sekali Rudy aku tampar pipinya. Terkadang kena mulutnya sampai bibir atau gusinya pecah berdarah. Sehingga mulutnya merah seperti orang makan sirih,karena air ludah bercampur darah, dan membikin air ludah, gigi dan bibirnya merah! Tapi, Rudy tentara sejati, tahan banting dan tahan hajar. Dia tidak pernah punya "hard feeling" kepadaku, setiap kali baru aku hajar dengan kejam.Dia tetap saja hormat dan ramah, bersahabat kepadaku.

Aku sering menghajar bawahanku - terutama yang tamtama.Karena mereka masih harus banyak belajar disiplin militer.Aku suka menyiksa mereka dengan kejam kalau mereka berbuat kesalahan, terutama jika mereka melanggar disiplin militer.Aku punya beberapa alat penyiksa, seperti: pecut,penyengat listrik, batangan besi untuk dipanaskan [dan di-joskan ke paha anak buahku], penjepit jari dan banyak lagi lainnya, termasuk rantai dan borgol bergerigi, serta penjepit bergigi buaya.

Favoritku adalah pecut atau cemeti.Tiap kali aku akan menghajar anak buahku yang tamtama dengan pecut,aku suruh mereka telanjang bulat.Lalu aku gantung dalam posisi spread eagled, barulah aku hajar tubuhnya dengan cemeti sampai badan mereka penuh bilur, lebam dan lecet berdarah-darah. Tak jarang sampai pingsan, semaput,tak sadarkan diri karena aku menghajar mereka keterlaluan!

Aku senang melihat reaksi mereka saat dipecut. Waktu pecut aku hajarkan dengan sekuat tenaga ke tubuh emreka yang telanjang bulat itu, mula-mula terdengar suara pecut yang beradu kulit tamtama CETTARRR! Keras sekali! Mereka kaget,lalu tubuh mereka yang sedang telanjang itu terguncang dan menggelinjang karena kesakitan. Pemandangan itu terasa amat merangsangku sehingga membikin aku ngaceng dan makin bernafsu untuk terus-terusan melecuti tubuh telanjang mereka sejadi-jadinya dan sepuas-puasku! Setiap kali pecutku menghajar kulit tamtama,langsung akan meninggalkan bilur, lebam atau lecet berdarah.

Pelanggaran berat, aku hukum dengan Lari Cambuk, yaitu tamtama yang dihukum disuruh lari sambil bertelanjang dada,mengenakan celana lapangan dan sepatu lapangan [sepatu militer, boot, laars].

Mereka aku suruh lari 5 - 10 km dengan cara lari mengelilingi lapangan olah raga batalyon berkali-kali. Sementara itu aku atau salah satu perwira bawahanku mengikuti si tamtama sialan itu naik pick up dengan bak terbuka.Sambil berdiri di bak belakang yang terbuka,aku atau perwira bawahanku menghajar tubuh tamtama sialan itu dengan pecut.

Aku bisa melihat geliat dan gelinjang kesakitan si tamtama sialan itu. Kalau target 5 - 10 km belum tercapai tapi si tamtama sudah berhenti karena kepayahan,maka aku tidak ragu memberikan semangat dengan lecutan-lecutan keras bertubi-tubi ditubuhnya atau dengan enteng aku selomot pahanya dengan besi panas! Biasanya mereka akan menjerit AAAAGH! Keras sekali, karena kesakitan amat sangat!

Pecut, cambuk, atau cemeti merupakan alat yang andalanku dalam membina anak buahku yang tamtama. Para perwira bawahanku juga aku wajibkan untuk menyimpan dan membawa pecut jika melatih dan menghukum anak buahnya.

Penggunaan cemeti sangat efektif, apalagi jika dilecutkan dengan keras sampai lecet berdarah! Tubuh tamtama bawahanku semuanya berotot ketat bak binaragawan! Itu berkat penggunaan cemeti waktu latihan beban dan binaraga!Di samping itu, tentu kulit tubuh mereka juga banyak mempunyai parut-parut, yaitu bekas lecutan-lecutanku dan lecutan perwira lainnya yang mengakibatkan luka lecet. Biasanya jika sembuh luka lecet akibat lecutan cemeti itu akan berbekas parut!

KOMANDAN BATALYON DAN NAFSU MENYIKSA

Aku seorang perwira berpangkat Letnan Kolonel di suatu negara dan aku menjabat sebagai Komandan Batalyon suatu pasukan tempur. Tidak perlu aku sebutkan aku berada di negara mana.Yang penting aku menceritakan tentang kejadian-kejadian yang aku alami dan kelakuan-kelakuan yang aku perbuat!

Komandan Batalyon [Danyon] pasukan tempur adalah orang penting. Aku membawahi beberapa Kompi yang dipimpin oleh para perwira pertama [Letnan atau Kapten].Para Komandan Kompi [Danki]ini membawahi beberapa Peleton yang dipimpin para perwira remaja usia sekitar 24-25 tahun.Anggota Peleton adalah para bintara [Sersan] dan tamtama yaitu Parjurit sampai Kopral.

Tidak ada tempat yang lebih bebas melampiaskan nafsu sadis dan homoseksual selain di lingkungan militer. Akademi Militer West Point dan berbagai kesatuan militer di Amerika Serikat juga punya tradisi hazing [perpeloncoan]yang lengkap dengan proses-prosedur penyiksaan bagi para new-recruit atau juniors!

Di Peru, para kadet atau taruna Akademi Militer juga disiksa oleh para senior mereka pada masa awal pendidikan.Bahkan ada yang disetrum listrik dalam kedaan telanjang bulat. Setiap tahun pasti ada kadet yang mati karena dihajar gila-gilaan oleh seniornya dalam suatu orgy penyiksaan.

Di Kanada, calon pasukan khusus juga disiksa pada masa inisiasi [perpeloncoan - mapram] oleh para seniornya bahkan ada yang dipaksa mengisap kontol temannya[blowjob] sampai pejuhnya muncrat berceceran kemana-mana.

Di Korea Selatan, setiap tahun ada 1000 tentara yang mati karena dihajar oleh atasannya atau pelatihnya,atau dipaksa melakukan latihan fisik berat gila-gilaan!

Kebebasan menyiksa di lingkungan militer juga dibuktikan dengan kejadian di Penjara Abu Ghraib Irak,yaitu dimana tentara Amerika asyik menyiksa tahanan Irak yang dipaksa harus telanjang bulat. Para tahanan laki-laki itu bahkan dipaksa harus bertelanjang bulat selama mereka dalam tahanan. Disuruh berpelukan telanjang bulat dan ngeloco.

Hasil analisis dari pemeriksaan psikiatris dan psikologis terhadap pelaku penyiksaan di Abu Ghraib, menunjukkan bahwa penyiksaan yang dilakukan oleh tentara Amerika itu merupakan pelampiasan nafsu sadis dan homoseksual mereka. Menurut penelitian, sekitar 30% pria di Amerika pernah melakukan hubungan sejenis sekali dalam hidupnya.

Kejadian di Abu Ghraib hanyalah puncak gunung es atau "trop of the ice berg", karena perbuatan serupa juga dilaporkan di berbagai institusi militer Amerika Serikat, di penjara-penjara dan di rumah-rumah piatu, bahkan di perguruan tinggi seperti di asrama khusus laki-laki yang disebut fraternity atau frat!

Tentu saja pelampiasan nafsu sadis homoseksual bukan hanya monopoli Amerika Serikat,tetapi juga terjadi di berbagai bagian dunia, termasuk di Tanah Air-ku.Tetapi tidak etis jika aku menyebut secara terbuka, dimana letak Tanah Air-ku itu.

Acara-acara hazing yang sekarang sudah dilarang di banyak negara, kini masih saja dipraktekkan dengan leluasa di STPDN dan AMN. Video tentang penghajaran Praja Yunior di STPDN Jatinangor merupakan bukti konkrit masih berlangsungnya kebiadaban di institusi itu!

Dengan cerita praktek-praktek sadis aku harap Pembaca MOTN bisa menikmati cerita cabul erotis sadis merangsang yang merupakan kisah nyata, dan senyata-nyatanya, yang terang bak matahari dan nyata bak ta'i di lobang kakus! Bau!!!

MENYIKSA RUDY

Suatu kali, Rudy melanggar disiplin.Dia bermalam di luar asrama tanpa izin. Aku paling benci jika bawahanku melanggar disiplin,apalagi kalau sudah cenderung desersi - seperti bermalam di luar asrama tanpa izin.

Karena itu Rudy tidak aku beri ampun. Begitu dia datang di asrama,langsung aku hukum Lari Cambuk. Aku turun langsung mencambuki dia, karena aku ingin memberi dia pelajaran yang berharga! Aku pilih pecut kawat untuk menghajar tubuh Rudy waktu sedang menjalani Lari Cambuk. Seharusnya lecutan hanya dihajarkan sekali-sekali saja pada Lari Cambuk. Tapi aku ingin memberikan hukuman berat pada Rudy, karena itu dia aku suruh lari hanya mengenakan supporter saja. Supaya aku bisa melecuti paha dan bokongnya dengan leluasa.

Demikianlah, begitu Rudy mulai lari, pick up aku suruh berjalan dekat Rudy dan dengan asyik aku mencambuki Rudy dengan pecut kawat. Dari gerakan gelinjang tubuhnya,tampak sekali bahwa Rudy amat kesakitan dan menderita aku cambuki dengan pecut kawat.Suara pecut kawat beradu dengan kulit Rudy terdengar seperti suara : Whhett! Whhett! Whhett! Tiap kali kawat tajam beradu kulit Rudy langsung membiaskan luka lecet berdarah segarrr!

Baru 2 kali lari putaran lapangan olahraga,Rudy sudah pingsan.Mungkin kesakitan.Segera aku ambil pecut biasa dan aku hajar tubuhnya sejadi-jadi-nya : Cetarr!Cetarr!Cetarr! Puluhan kali, tapi dia tidak siuman juga. Terpaksa aku suruh dia diangkut ke klinik! Tubuhnya yang ketat berotot itu,basah kuyup berkilat-kilat oleh keringat dan babak belur berlumuran darah penuh lecet bekas lecutan cemeti berujung kawat tajam! Biar tahu rasa! Mampus dia! Begitulah cara mendisiplinkan tamtama di batalyonku!

[KONTOL!]


The site is under heavy traffic at this time. Could not retreive more articles from Tommy Rinaldo Vito at this time Please refresh the page.