'Komandan yang kejam dan suka menyiksa' - gay sex story @ Menonthenet.com's Gay Erotic Stories

Menonthenet.com Gay Erotic Stories. Last updated Jul 16, 2019 - Home of 21478 erotic stories

Your Cookies are not enabled. You will not be able to register or login to your profile.

Komandan yang kejam dan suka menyiksa

By Tommy Rinaldo Vito

submitted April 10, 2005

Categories: In Indonesian

Text Size:

PROFESI SADO-MASOCHIST

Aku amat menikmati profesiku sebagai militer! Suatu profesi yang dasarnya adalah membunuh atau dibunuh.Profesi yang jadi jiwa,raga,sukmaku dan jadi panggilan nafsu sex sejenis serta dorongan sado-masochist-ku.

Aku juga bersyukur bahwa aku terlahir jadi laki-laki jantan yang kuat fisik dan mental sehingga cocok jadi anggota militer. Tidak heran jika aku bisa survive dan berhasil melewati berbagai tes, ujian, latihan, dan pendidikan yang penuh dengan tekanan, siksaan fisik dan mental yang disertai penghajaran gila-gilaan,diluar batas-batas peri-kemanusiaan!

MELAMPIASKAN MASOCHISME

Pukulan, tonjokan, tamparan, maupun tendangan - juga lecutan cemeti,sodokan besi panas,sundutan rokok menyala serta sengatan listrik [di kontol, bijipeler,puting susu,ketiak dan lobang pantat] merupakan makanan sehari-hari kami! Semua itu terasa nikmat di tubuh, otak dan kontolku, dan serasa nyawaku moksa ke Nirvana - setiap kali aku bisa merasakan siksaan-siksaan biadab itu!

Tapi masa untuk menikmati masochisme itu sudah berakhir dan sekarang setelah aku jadi Perwira dan memimpin suatu pasukan [batalyon] aku bisa menikmati pelampiasan nafsu sadiss ku sesuka-ku dan semau-ku!

Dulu waktu aku masih jadi taruna senior Akmil, aku boleh melampiaskan nafsu sadiss-ku dengan menghajar dan menyiksa Plontos dan Capratar atau taruna yunior.Maka sekarang setelah jadi Perwira efektif sasaranku, siapa lagi?, kalau bukan anak buahku sendiri yang istilah militernya adalah : anggota.

Tercipta sebagai lelaki sejati dengan tinggi 170 berat 80,tampan jantan bertubuh atletis, berotot ketat dan dengan kontol besar [sebesar ukuran kontol Ricardo Gelael] yang disunat ketat, high and tight - jagoan bela diri dan jagoan olah raga dengan physical fitness di atas rata-rata, apalagi yang kurang dariku? Teman-temanku segan padaku, karena aku punya kharisma! Apalagi anak buahku. Aku juga punya record akademik yang luar biasa.Tidak heran jika aku selalu dapat bintang, sertifikat, atau tanda penghargaan setiap kali aku ikut latihan dan pendidikan!

MELAMPIASKAN SADISME

Waktu aku jadi taruna senior,banyak Plontos atau Capratar yang stress sampai pejuhnya muncrat kalau aku panggil atau aku dekati. Karena kalau aku panggil,pasti akan aku siksa dengan kejam di luar batas peri kemanusiaan.Tidak jarang sampai pingsan,semaput tak sadarkan diri dan berlumuran darah segar!

Aku adalah penyiksa berdarah dingin,makin tampak menderita si korban, makin asyik dan kejam aku menyiksa.Gelinjang, geliat tubuh serta tarikan wajah yang kesakitan akibat aku hajar atau aku siksa terasa amat indah dan nikmat. Suara desah, rintih, dan jeritan tertahan karena amat sangat kesakitan - bagaikan musik dan suara alam yang indah, menyenangkan dan membangkitkan gairah seksual di otak dan kontolku! Ta'i!

Tentu saja aku hanya suka menyiksa laki-laki, ya laki-laki saja!Tentu lelaki yang jantan, tampan, berotot ketat dengan kontol besar yang disunat ketat! Obyek penyiksaan seperti itu banyak aku dapati di antara Plontos, Capratar dan Taruna Yunior. Mereka ini adalah pemuda remaja pilihan harapan bangsa. Banyak di antara mereka yang tampan, berkulit terang, atletis, kontolnya besar[disunat ketat] dan jembut serta bulu ketek-nya lebat menghitam!

Jika punggngnya aku hajar dengan cemeti, maka mereka akan kaget(!) dan reaksi tubuhnya adalah menggeliat,setengah menjerit tertahan : "AAGHH! bersamaan dengan bunyi pecut beradu dengan kulit punggung mereka yang putih mulus dan kelaki-laki-an : CETTARRR! Kemudian bekas lecutan itu akan membiaskan bilur, lebam dan tak jarang lecet dan berdarah!Indah dan jantan!

Melihat pemandangan yang indah dan jantan itu, nafsuku terdorong untuk mengulang dan mengulang lagi lecutan keras cemetiku dengan sekuat tenaga otot karateku : CETTARR! CETTARR! CETTAR! sampai puluhan kali,sehingga membiaskan bilur-bilur dan lecet-lecet berdarah di tubuh pemuda remaja yang pilihan itu. Seringkali aku lupa diri dan baru berhenti setelah pemuda yang aku siksa telanjang bulat itu pingsan, semaput, tidak sadarkan diri!

Tubuhnya yang putih telanjang bulat berlumuran darah segarr!Maka terjadilah warna pelangi yang indah tapi sadis: tubuh putih, bilur biru, lecet merah berdarah,jembut dan bulu ketek yang hitam dan kepala kontol yang kemerah-merahan[tapi layu dan loyo]! Indah sekal1! Ta'i!

Jika Si Taruna Yunior yang kena hajar cukup kuat dan tetap sadar tidak pingsan, maka setelah aku puas menghajarnya, aku paksa dia ngeloco untuk mengurangi rasa sakit,nyeri, pedih, pegal akibat cambukan pecutku. Si Taruna Yunior akan dengan susah payah mengocok kontolnya yang layu-loyo.

Dengan ancaman dan bentakan, biasanya si korban akan ngaceng juga dan setelah kontolnya dikocok-kocok,maka pejuhnya muncrat : CROOOOOT! CROOOOT! CROOOOOT, berceceran di lantai. Setelah pejuhnya muncrat semua, aku paksa dia menjilati ceceran pejuhnya di lantai dengan lidahnya! Itu adalah prosedur tetap yang selalu aku ikuti tiap kali aku menghajar Plontos, Capratar atau pun taruna yunior. Prosedur sialan ini diikuti oleh tenman-teman seangkatanku yang bajingan dan biadab!

Andai aku jadi preman, pasti aku punya banyak anak buah dan memimpin jaringan kriminil yang luas dan tak tertandingi. Untung aku tidak jadi bajingan, meskipun otak jahat dan pikiranku tak ubahnya otak bajingan yang didasari nafsu sex sadiss dan masochistis! Ta'i! Dibalik kehebatan- ku,itulah kelemahanku yang tak dapat diobati dan diatasi, yaitu kegemaran pada sex sejenis dan kegemaran menyiksa dan disiksa [s/M]. Ta'i!

KEKUASAAN KOMANDAN

Sebagai Komandan Batalyon aku boleh berbuat apa saja pada anak buahku. Tentu saja jika ada apa-apa, risikonya harus aku tanggung. Karena sikap ku yang keras, tegas dan kejam tidak berperi- kemanusiaan, maka semua ank buahku takut padaku dan aku amat menikmati posisi seperti itu.Aku paling suka menghukum anak buah yang melanggar disiplin dengan cara kejam.

Pelanggaran kecil-kecil, seperti baju seragam yang tidak licin gosokannya, sepatu yang tidak berkilat, kancing baju yang terlepas,jadi alasan empuk bagiku untuk menghajar anak buah dengan hukuman dan siksaan yang kejam dan sadis! Tentu saja displin pasukan jadi meningkat 100% dengan tindakanku yang di luar batas peri-kemanusiaan itu.

Tetapi aku mengimbangi dengan kesejahteraan dan sarana yang lebih baik.Mau tidak mau anak buahku menghargai dan menerima baik kepemimpinan sialan-ku.Apalagi para Perwiranya,karena sasaran siksa-an dan penghajaran aku tujukan pada para tamtama baru - new recruits!

Jika ada tamtama {Prajurit] baru,aku perlakukan mereka seperti Plontos dan Capratar. Selama 6 bulan mereka tak boleh meninggalkan asrama sama sekali. Aku membangun asrama khusus buat mereka yang dikelilingi dengan tembok dan kawat duri seperti penjara - sehingga mereka tidak mungkin lari atau desersi jika mereka tidak bisa tahan perlakuan yang kejam di luar batas-batas peri-kemanusiaan.

Aku mewajibkan semua tamtama-baru melatih otot-ototnya jadi seperti binaragawan. Aku menyedia-kan pelatih-pelatih yang kejam dan suka mengayun pecut. Tidak heran jika dalam waktu singkat otot mereka terbentuk mendekati otot Ade Rai!

Latihan-latihan dilakukan dengan sitematis untuk mencapai target tertentu.Target yang tidak bisa dicapai harus dibayar dengan lecutan cemeti.

Sebagai contoh,jika dalam minggu ke-2 seharusnya satu set gerakan bisa dicapai 100 kali, ternyata hanya tercapai 90 kali maka yang 10 akan diganti dengan hukum pecut 10 kali!Semua lecutan cemeti harus diayun dengan kerass dan dengan kekuatan otot penuh agar kulit tamtama lecet berdarah!

Jika hukuman pecut 50 kali maka harus ada 50 lecet berdarah!Agar lecutan efektif,maka hukuman pecut dilakukan oleh sesama tamtama, dan jika lecutan tidak mengakibatkan lecet maka tamtama yang bertugas mengayunkan pecut kena penalti dua lecutan keras, begitu juga si terhukum. Dengan cara begitu maka setiap tamtama yang bertugas menghajar temannya akan melecutkan cemeti sekuat-kuat ototnya. Daripada dia kena pecut dua kali!

Oleh karean itu dalam asrama tamtama itu bunyi CETTARR! CETTARR! CETTAR! seakan tidak putus-putusnya, karena selalu saja ada tamtama yang sedang dihajar dengan pecut!

Selain membentuk tubuh mereka jadi lelaki sejati aku juga menerapkan displin yang kerass!. Sikap militer dan kebersihan tubuh juga aku utamakan. Tamtama yang bicara kurang keras, atau berdiri kurang tegap bisa kena hukuman sundutan rokok atau tempelan besi panas. Ketiak yang tidak bersih dari rambut bisa kena sengatan listrik. Karena itu ketiak para tamtama itu klimis semua!

Setiap minggu seluruh tamtama ditelanjangi untuk diperiksa tubuhnya dari segi kebersihan dan juga kesehatannya. Pada pemeriksaan kesehatan itu semua tamtama diwajibkan bersaam-sama mengocok kontolnya samapi pejuh mereka muncrat! Maksudnya agar mereka tidak onani dikamar mandi,di bangsal tidurnya atau mengotori kancutnya dengan mimpi basah.

Bagi tamtama yang kulup [belum sunat}, begitu datang langsung aku suruh Tim Kesehatan untuk memotong kulupnya tanpa anestesi!

Agar mereka PD [Percaya Diri], para tamtama itu juga dibiasakan telanjang bulat!Mereka diwajib-kan tidur, corvee [kerja bakti] dan latihan renang dalam keadaan telanjang bulat.

Diluar jam dinas mereka jugs tidak dilarang jika mau berkeliaran dalam keadaan telanjang bulat, asal masih di lingkungan asrama tamtama. Para tamtama tampaknya amat sangat menikmati izin bertelanjang bulat itu. Hampir semuanya memilih untuk bertelanjang bulat saja di luar jam dinas!

ANTICLIMAX

Begitulah cara berpikir Komandan Batalyon yang homosex, cabul dan gila! Ta'i! Betapa indahnya membayangkan saat Tommy Tjokro dan Abdul Rahman Rasyid [keduanya Penyiar Metro TV] yang ganteng itu pada ngeloco kontolnya sambil bertelanjang bulat sampai pejuhnya muncrat!

[TA'I, KONTOL, JEMBUT DAN PEJUH]


The site is under heavy traffic at this time. Could not retreive more articles from Tommy Rinaldo Vito at this time Please refresh the page.